UNIVERSITAS
GUNADARMA
ILMU
BUDAYA DASAR
KELOMPOK
1
KELAS
1EA19
NAMA
ANGGOTA :
1. DELLA
ARISKA (11216788)
2. MAISKA
YUTIKA (14216234)
3. OLIVIA
CHRISTY (15216680)
4. SEPTHIANA
HUSOSEINI (16216916)
5. TASYA
NADINDA (17216310)
6. VINA NURFAJRINA
(17216544)
KATA PENGANTAR
Puji dan
syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNya
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini hingga selesai dengan tepat
waktu.
Dan
harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para pembaca, untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena
keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih banyak
terdapat kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan
saran dan kritik yang dapat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Daftar isi
Kata Pengantar
1.
Topik
1.1 Latar Belakang
1.2 Unsur
kebudayaan
2.
Topik
2
2.1 Nilai-nilai adat suku
3.
Topik
3
3.1 Tradisi pernikahan adat
4.
Topik
4
4.1 Tahapan tradisi pernikahan adat
4.2 Transkip wawancara + foto dokumentasi
TOPIK 1
1.1 LATAR BELAKANG
Ritual
perkawinan adat Jawa sebagai jenjang yang harus dilalui seseorang sebelum
memasuki kehidupan rumah tangga yang sebenarnya, merupakan upacara sakral yang
berisi ungkapan mengenai adat, sikap jiwa, alam pikiran dan pandangan rohani
yang berpangkal tolak dari budaya Jawa. Ritual upacara sakral ini merupakan
salah satu kekayaan budaya daerah yang di dalamnya terkandung nilai-nilai etika
Jawa yang sangat mendalam. Nilai-nilai etika tersebut menjadi pedoman atau
dasar bagi keutamaan watak susila Kejawen dalam budaya Jawa.
Suatu
ritual perkawinan adat tradisional merupakan saat yang paling penting dan
menentukan karena merupakan masa peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya.
Ritual perkawinan adalah crisis ritus (upacara di saat krisis) dan rite passage
(upacara di masa peralihan) yang
memiliki fungsi sosial yaitu menyatakan kepada khalayak luas
tingkat hidup baru yang telah dicapai individu yang bersangkutan
(Koentjaraningrat, 1981:90).
1.2 UNSUR
KEBUDAYAAN JAWA
a.Sistem
Religi dan kepercayaan
Agama Islam
adalah agama mayoritas masyarakat Jawa selain Katolik, Kristen, Hindu
dan Budha
serta aliran kepercayaan.
Dalam
masyarakat Jawa tidak semua orang melakukan ibadahnya sesuai criteria Islam.
Di pedesaan
kita temukan adanya dua golongan Islam yaitu :
•Golongan
Islam Santri
•Golongan
Islam Kejawen, percaya kepada ajaran Islam tetapi tidak secara patuh
menjalankan
rukun Islam.
Bagi orang
Jawa upacara keagamaan berkaitan dengan selamatan :
1.Berkaitan
dengan lingkaran hidup seperti kelahiran, potong rambut pertama,
tingkeban (7
bulan kehamilan), perkawinan, kematian, khitan, tedhak siti.
2.Berkaitan
dengan hari/bulan besar Islam
3.Berkaitan
dengan kehidupan desa seperti bersih desa, masa tanam,
4.Berkaitan
dengan kematian seseorang, surtanah/geblak, telung dino, mitung dino,
matang
puluh, nyatus, mendhak sepisan, dll
b.Sistem
kekerabatan
Prinsip
kekerabatan berdasarkan bilateral/parental yaitu menarik garis keturunan dari
dua belah
pihak ayah dan ibu. Pada masyarakat Jawa perkawinan yang dilarang adalah
perkawinan
panjer lanang yaitu saudara sepupu. Pola menetap setelah perkawinan
bebas
memilih tempat (uxorilokal-wanita, utrolokal-pria, neolokal-baru, avunkulokal-
saudara ibu
laki-laki)
c.Sistem
kesenian
1.Seni
Bangunan : rumah adat Joglo yang terdiri dari:
•Dalem yaitu
ruang utama tempat tinggal keluarga
•Pringgitan
tempat pertunjukan wayang
•Pendopo
tempat menerima tamu dan upacara ada
2.Seni
Tari :tarian terkenal Reog Ponorogo, Tayub, Srimpi, Gambyong, Wayang
(Orang, kulit, beber) diiringan gamelan dan pesinden.
3.Seni Kerajinan : kain batik tulis(Pekalongan,
Surakarta, Yogyakarta), ukiran Jepara
d.Sistem politik
Secara administratif suatu desa di Jawa disebut
kelurahan yang dipimpin
lurah/begel/petinggi/glondrong. Dalam pelaksanaan
tugas dibantu oleh pamong desa
yang mempunyai dua tugas yaitu tugas kesejahteraan
dantugas kepolisian untuk
keamanan dan ketertiban desa.
•Carik pembantu umum dan penulis desa
•Ulu-ulu/jagatirta mengatur irigasi
•Jagabaya menjaga keamanan desa
•Kebayanpesuruh/kurir dari lurah ke rakyat
•Modin kesejahteraan rakyat
TOPIK 2
2.1 nilai-nilai budaya
Seni : Banyak
kesenian tradisional yang dimiliki oleh masyarakat Banyumas, seperti dhalang
jemblung, dagelan, begalan, macapat, angguk, ebeg (jaran kepang atau kuda
lumping), aplang, ujungan, calung, boncis, braen, manongan, slawatan, gending
banyumasan, seni batik, dan gagrak banyumas.
Religi : Mayoritas
orang Banyumas beragama islam, mengenal nama-nama makhluk halus, pelaksanaan
upacara sehubungan kehamilan. Mereka juga memperingati hari besar islam seperti
bulan sura mengadakan pertunjukkan wayang dan menziarahi makam leluhur yang
dianggap keramat. Dalam bulan maulud mereka mensucikan benda-benda pusaka dan
lain-lain. Tujuannya hanya untuk memperoleh berkah (ngalap berkah).
Sosial
: Terwujud nilai ketertiban dan
kebersamaan dalam kehidupan masyarakat, masih ada anggapan bahwa alam memiliki
kekuatan yang dapat memberikan pengaruh bagi kehidupan mereka baik pengaruh
positif maupun pengaruh negatif. Oleh karena itu manusia melakukan pendekatan
atau berkomunikasi dengan alam dengan melakukan sesaji, sesembahan,
ritual-ritual, dan lain-lain dengan harapan alam bermurah hati memberi
kesempatan kepada mereka untuk hidup lestari.
TOPIK 3
3.1 Budaya tanah jawa
memang menyimpan sejuta keindahan dan keagungan yang tetap dipegang teguh oleh
masyarakatnya.
Hal ini dapat kita
lihat dalam prosesi upacara pernikahan yang penuh makna dan khas. Beragam
tradisi dan tata cara pernikahan menjadi bagian dari adat masing-masing daerah.
Berikut ini tahapan
tata cara prosesi pernikahan adat jawa yang umum dilakukan oleh
masyarakat jawa tengah dan sekitarnya, yang kami jabarkan dalam 5 tahap.
1. Babat alas artinya membuka hutan untuk merintis
membuat lahan. Dalam hal babat alas ini orangtua pemuda merintis seorang
congkok untuk mengetahui apakah si gadis sudah mempunyai calon atau belum.
Istilah umumnya disebut nakokake artinya menanyakan.
2. Kalau sang pemuda belum kenal dengan sang gadis,
maka adanya upacara nontoni
Yaitu sang pemuda diajak keluarganya datang ke rumah sang gadis, pada saat
pemuda pemuda itu diajak/ diberi kesempatan untuk nontoni sang gadis pilihan
orang tuanya.
3. Bila cocok artinya saling setuju, kemudian disusul
dengan upacara nglamar atau meminang. Dalam upacara nglamar, keluarga pihak
sang pemuda menyerahkan barang kepada pihak sang gadis sebagai peningset yang
terdiri dari pakaian lengkap, dalam bahasa Jawanya sandangan sapangadek.
4. Menjelang hari perkawinan diadakan upacara
srah-srahan atau asok tukon yaitu
pihak calon pengantin putra menyerahkan sejumlah hadiah perkawinan kepada
keluarga pihak calon pengantin putri berupa hasil bumi, alat-alat rumah tangga,
ternak dan kadang-kadang ditambah sejumlah uang.
5. Kira-kira 7 hari (dulu 40 hari) sebelum hari
pernikahan calon pengantin putri dipingit artinya tidak boleh keluar dari rumah
dan tidak boleh bertemu dengan calon suaminya. Selama masa pingitan calon
pengantin putri membersihkan diri dengan mandi kramas dan badannya diberi
lulur.
6. Sehari atau dua hari sebelum upacara akad nikah di
rumah orangtua calon pengantin putri membuat tratag dan menghias rumah.
Kesibukan tersebut biasanya juga dinamakan upacara pasang tarub.
7. Upacara siraman yaitu memandikan calon pengantin
putri dengan kembang telon yaitu bunga mawar, melati dan kenanga dan
selanjutnya disusul dengan upacara ngerik. Upacara ngerik yaitu membersihkan
bulu-bulu rambut yang terdapat di dahi, kuduk, tengkuk dan di pipi.
8. Setelah upacara ngerik, maka pada malam hari
diadakan upacara malam Midodareni. Calon pengantin putra datang ke rumah
pengantin putri dan selanjutnya calon pengantin putra menjalani upacara
nyantri.
9. Pada pagi harinya atau sore harinya dilangsungkan
upacara ijab kabul yaitu meresmikan kedua insan antara pria dan wanita yang
memadu kasih telah sah menjadi suami istri.
10. Sehabis upacara ijab kabul dilangsungkan upacara
panggih atau temon yaitu pengantin putra dan pengantin putri ditemukan yang
berakhir duduk bersanding di pelaminan.
TOPIK 4
1.1 4.1 TAHAPAN TRADISI PERNIKAHAN ADAT JAWA
TAHAP 1 (PROSESI PEMBICARAAN)
Tahapan ini intinya
mencakup tahap pembicaraan pertama hingga acara melamar.
A. CONGKOG
Seorang perwakilan
diutus untuk menanyakan dan mencari informasi tentang kondisi dan situasi calon
besan yang putrinya akan dilamar. Tugas wali yang utama yaitu menanyakan status
calon mempelai wanita, apakah masih sendiri atau telah ada pihak yang mengikat.
B. SALAR
Jawaban pada acara
Congkog akan ditanyakan pada acara Salar yang diselenggarakan oleh seorang
wali, baik oleh wali yang pertama atau orang lain.
C. NONTONI
Setelah lampu hijau
diberikan oleh calon besan kepada calon mempelai pria, maka orang tua, keluarga
besar beserta calon mempelai pria berkunjung ke rumah calon mempelai wanita
untuk saling “dipertontonkan”.
Dalam acara ini orang
tua bisa melihat kepribadian, fisik, raut muka, gerak-gerik dan hal lainnya
dari si calon menantunya.
D. NGLAMAR
Utusan dari orang tua
calon mempelai pria datang melamar pada hari yang sudah disepakati. Biasanya
sekaligus menentukan waktu hari pernikahan dan kapan dilaksanakan rangkaian
upacara pernikahan.
TAHAP 2 (PROSESI KESAKSIAN)
Setelah melalui
prosesi pembicaraan, selanjutnya dilaksanakanlah peneguhan pembicaraan yang
disaksikan pihak ketiga, seperti kerabat, tetangga atau sesepuh.
A. SRAH-SRAHAN
Penyerahan seperangkat
perlengkapan sarana untuk melancarkan penyelenggaraan acara sampai acara
selesai dengan barang-barang yang masing-masing mempunyai arti dan makna
mendalam diluar dari materinya sendiri, yakni berupa cincin, seperangkat
pakaian wanita, perhiasan, makanan tradisional, daun sirih , buah-buahan dan
uang.
1.
Peningsetan
Lambang kuatnya ikatan pembicaraan untuk mewujudkan dua kesatuan ditandai dengan
tukar cincin oleh kedua calon pengantin.
2.
Asok Tukon
Penyerahan dana berupa sejumlah uang untuk membantu meringankan keluarga
mempelai wanita.
3.
Paseksen
Proses permohonan doa restu dan yang menjadi saksi dalam acara ini adalah
mereka yang hadir. Selain itu, juga ada beberapa pihak yang ditunjuk menjadi
saksi secara khusus yang mendapat ucapan terima kasih yang
dinamakan Tembaga Miring (berupa uang dari pihak calon besan).
4.
Gethok Dina
Penentuan hari ijab kabul atau akad nikah dan resepsi pernikahan. Biasanya
melibatkan seseorang yang ahli dalam memperhitungkan hari, tanggal dan bulan
yang baik atau kesepakatan dari kedua keluarga pengantin saja.
TAHAP 3 (PROSESI SIAGA)
Pembentukan panitia
dan pelaksana kegiatan yang melibatkan para sesepuh atau sanak saudara.
A. SEDHAHAN
Mencakup pembuatan
sampai pembagian surat undangan pernikahan.
B. KUMBAKARNAN
Pertemuan untuk
membentuk panitia pesta pernikahan dengan mengundang sanak saudara, keluarga,
tetangga dan kenalan. Termasuk membicarakan rincian program kerja untuk panitia
dan para pelaksananya.
C. JENGGOLAN ATAU JONGGOLAN
Calon pengantin melapor ke KUA. Tata cara ini sering disebut tandhakanatau tandhan, yang
mempunyai arti memberitahu dan melaporkan kepada pihak kantor pencatatan sipil
bahwa akan ada hajatan pernikahan yang dilanjutkan dengan pembekalan
pernikahan.
TAHAP 4 (PROSESI UPACARA)
Biasanya sehari sebelum acara pesta pernikahan, pintu gerbang dari rumah
orang tua wanita dihias dengan Tarub (dekorasi
tumbuhan), terdiri dari pohon pisang, buah pisang, buah kelapa, tebu dan daun
beringin yang mempunyai makna agar pasangan mempelai hidup baik dan bahagia
dimana saja.
Pasangan mempelai
saling cinta satu sama lain dan akan merawat keluarga mereka. Dekorasi
pernikahan lainnya yang disiapkan adalah kembang mayang, yakni suatu karangan
bunga yang terdiri dari sebatang pohon pisang dan daun pohon kelapa.
A. PASANG TRATAG DAN TARUB
Tanda resmi bahwa akan ada hajatan mantu kepada masyarakat. Tarubberarti hiasan dari janur kuning atau daun kelapa
muda yang disuwir-suwir (disobek-sobek) dan dipasang di sisi tratagdan ditempelkan pada pintu gerbang tempat resepsi
acara agar terlihat meriah.
Jika ingin dilengkapi, boleh dilanjutkan dengan uba rambe selamatan dengan sajian makanan nasi
uduk, nasi asahan, nasi golong, apem dan kolak ketan.
B. KEMBAR MAYANG
Sering disebut Sekar Kalpataru Dewandaru,
sebagai lambang kebahagiaan dan keselamatan. Benda ini biasa menghiasi panti
atau asasana wiwarayang dipakai dalam acara panebusing kembar mayangdan
upacara adat panggih.
Jika acara telah selesai, kembar mayang akan
dibuang di perempatan jalan, sungai atau laut agar kedua pengantin selalu ingat
asal muasalnya.
C. PASANG TUWUHAN (PASREN)
Tuwuhan atau tumbuh-tumbuhan sebagai lambang isi alam semesta dan mempunyai
arti tersendiri dalam budaya jawa dipasang di pintu masuk tempat duduk
pengantin atau tempat pernikahan.
D. SIRAMAN
Upacara Siraman
mengandung makna memandikan calon mempelai yang disertai dengan niat membersihkan diri agar menjadi bersih dan suci lahir dan batin.
Urutan tahapannya yaitu calon pengantin memohon doa restu kepada kedua
orangtuanya, kemudian mereka (calon pengantin pria dan wanita) duduk di tikar
pandan, lalu disiram oleh pinisepuh, orang tua
dan orang lain yang telah ditunjuk.
Terakhir, calon
pengantin disiram air kendi oleh ibu bapaknya sambil berkata “Niat Ingsun
ora mecah kendi nanging mecah pamore anakku wadon” dan kendi kosongnya
dipecahkan ke lantai.
E. ADOL DHAWET (JUAL DAWET)
Setelah acara siraman, dilaksanakan acara jual dawet.
Penjualnya adalah ibu calon mempelai wanita yang dipayungi oleh ayah calon
mempelai wanita. Pembelinya yaitu para tamu yang hadir, yang menggunakan
pecahan genting sebagai uang.
F. PAES
Upacara menghilangkan
rambut halus yang tumbuh di sekitar dahi agar tampak bersih dan wajah calon
pengantin bercahaya, lalu merias wajahnya. Paes sendiri melambangkan harapan
kedudukan yang luhur diapit lambing ibu bapak dan keturunan.
G. MIDODARENI
Upacara adat Midodaren
berarti menjadikan sang mempelai wanita secantik Dewi Widodari. Orang tua
mempelai wanita akan memberinya makan untuk terakhir kalinya, karena mulai
besok ia akan menjadi tanggung jawab sang suami.
H. SELAMETAN
Berdoa bersama untuk
memohon berkah keselamatan menyongsong pelaksanaan ijab kabul atau akad nikah.
I. NYANTRI ATAU NYATRIK
Upacara penyerahan dan
penerimaan dengan ditandai datangnya calon mempelai pria berserta pengiringnya.Dalam prosesi acara
pernikahan ini calon mempelai pria mohon diijabkan, atau jika acara ijab
diadakan besok, kesempatan ini dimanfaatkan sebagai pertemuan perkenalan dengan
sanak saudara terdekat di tempat penganttn pria.
Jika ada kakak wanita yang dilangkahi, acara penting lainnya yakni
pemberian restu dan hadiah yang disesuaikan kemampuan pengantin dalam Plangkahan.
TAHAP 5 (PROSESI PUNCAK DARI RANGKAIAN UPACARA
DAN MERUPAKAN INTI RESEPSI)
A. UPACARA IJAB QOBUL
Sebagai prosesi
pertama pada puncak resepsi ini adalah pelaksanaan ijab qobul yang melibatkan
pihak penghulu dari KUA. Setelah acara ini berjalan dengan lancar dan sah, maka
kedua pengantin telah resmi menjadi sepasang suami istri.
B. UPACARA PANGGIH
Setelah upacara ijab
qobul selesai, selanjutnya dilanjutkan dengan upacara panggih yang meliputi:
• Liron kembar
mayang atau saling menukar kembang mayang dengan arti dan tujuan
bersatunya cipta, rasa dan karsa demi kebahagiaan dan keselamatan.
• Gantal atau
lempar sirih dengan harapan semoga semua godaan hilang terkena lemparan
tersebut.
• Ngidak
endhog atau mempelai pria menginjak telur ayam lalu dibersihkan atau
dicuci kakinya oleh mempelai wanita sebagai lambang seksual kedua pengantin
telah pecah pamornya.
• Minum air degan (air buah kelapa) yang menjadi simbol air hidup, air
suci, air mani dan dilanjutkan dengan di-kepyok bunga
warna-warni dengan harapan keluarga mereka bisa berkembang segala-segalanya dan
bahagia lahir batin.
• Masuk ke pasangan
mempunyai arti pengantin menjadi pasangan hidup siap berkarya melaksanakan
kewajiban.
• Sindur yakni
menyampirkan kain (sindur) ke pundak mempelai dan menuntun mempelai pengantin
ke kursi pelaminan dengan harapan keduanya pantang menyerah dan siap menghadapi
segala tantangan hidup.
Setelah upacara panggih, kedua pengantin diantar duduk di sasana riengga. Setelah itu, acara pun dilanjutkan.
• Timbangan atau
kedua mempelai duduk di pangkuan ayah mempelai wanita sebagai lambang sang ayah
mengukur keseimbangan masing-masing mempelai.
• Kacar-kucur dilaksanakan
dengan cara mempelai pria mengucurkan penghasilan kepada mempelai wanita berupa
uang receh beserta kelengkapannya. Lambang bahwa kaum pria bertanggung jawab memberi nafkah kepada keluarga.
• Dulangan atau kedua pengantin saling menyuapi. Mengandung
kiasan laku perpaduan kasih pasangan pria dan wanita (simbol seksual). Ada juga
yang memaknai lain, yakni tutur adilinuwih (seribu
nasihat yang adiluhung) disimbolkan dengan sembilan tumpeng.
C. UPACARA BABAK KAWAH
Upacara ini khusus
untuk keluarga yang baru pertama kali hajatan mantu putri sulung. Ditandai
dengan membagi harta benda seperti uang receh, umbi-umbian, beras kuning dan
lainnya.
D. TUMPLEK PUNJEN
Numplak artinya menumpahkan, punjen artinya
berbeda beban di atas bahu. Makna dari Tumplek Punjen yakni telah lepas semua
darma orang tua kepada anak. Tata cara ini dilakukan bagi orang yang tidak akan
bermenantu lagi atau semua anaknya telah menikah.
E. SUNGKEMAN
Sebagai ungkapan bakti
kepada orang tua serta memohon doa restu.
F. KIRAB
Istilah yang digunakan
untuk menggambarkan saat pengantin berdua meninggalkan tempat duduknya untuk
berganti pakaian.
4.1 wawancara dengan narasumber
Q: selamat siang bu
A: iya, selamat siang
Ada yang
bisa saya bantu ?
Q : saya mau tanya ibu dari daerah mana ?
A: ibu dari daerah jawa dek
Q: oh kebetulan sekali, saya ada tugas untuk menulis
makalah tentang adat jawa, sebelum nya bersediakah ibu untuk kami wawancarai ?
A : oh boleh.
Q : Sebelumnya terimakasih
bu sudah berkenan untuk diwawancara, dan disini kita akan menanyakan
beberapa hal mengenai adat pernikahan jawa. Seberapa tahu ibu
mengenai adat pernikahan jawa?
A: Menurut saya prosesi pernikahan di jawa, memiliki tahapan-tahapan dan
memiliki kandungan didalam setiap tahapannya
Q : apa saja yang ibu tahu tahapan tahapan untuk pernikahan adat jawa?
bu henny : Tahap yang pertama pengenalan, kemudian proses lamaran, lalu sebelum
pernikahan melakukan siraman namun ada yang melakukan adat ini ada juga yang
tidak melakukannya kemudian dilanjut dengan midodaremi yang dilakukan
sehari sebelum hari pernikahan, dan hari h-nya dimana
Daftar pustaka
Narasumber :
Ibu Henny Anggraini
http://labanursongo.blogspot.co.id/2010/12/tradisi-perkawian-adat-jawa-makalah.html